RASULAN, WARISAN BUDAYA TAK TERGANTIKAN

Oleh: Florentina Winarti
Dusun Karangasem

Setidaknya sejak aku lahir, 54 tahun yang lalu, tradisi rasulan sudah ada di daerahku. Bahkan sudah menjadi tradisi turun temurun warisan nenek moyang. Sebagai warga, sudah menjadi kewajiban untuk aktif dan peduli dengan apa yang ada di lingkungan tempat tinggal, terlebih yang berkaitan dengan adat istiadat atau tradisi. Rasulan merupakan ritual dan tradisi tahunan yang sangat dinantikan oleh seluruh warga masyarakat di daerahku, tepatnya di Padukuhan Karangasem, RT 05, RW 08, Kalurahan Pulutan, Kapanewon Wonosari, Kabupaten Gunungkidul.

Ketika tradisi rasulan tiba, kami seluruh warga dengan suka rela bersama-sama menyongsong tradisi budaya ini dengan penuh kerelaan hati tanpa adanya perintah atau tekanan dari pemerintah kalurahan. Secara naluri budaya rasulan ini menjadi agenda yang hidup subur di hati dan pikiran kami. Tradisi budaya rasulan sudah menjadi agenda tahunan yang melekat dan seolah sudah menjadi suatu kewajiban bagi kami sebagai anggota masyarakat. Sejak dahulu secara turun temurun dari nenek moyang sampai sekarang hari rasulan selalu mengambil hari pasaran Senin Pahing. Untuk tahun ini pelaksanaan jatuh tanggal 9 Juni 2025.

Ada 3 prosesi dalam acara rasulan di dusunku, yaitu prosesi pagi, siang, dan malam. Prosesi kenduri pagi melambangkan ucapan syukur sehabis panen untuk para petani yang dipersembahkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, Sang Pencipta yang telah memberikan rejeki melimpah kepada warga dusun. Inti dari acara genduren pagi sebagai ajang berkumpulnya warga masyarakat setempat untuk bersama-sama mengucap syukur dan memanjatkan doa pada Tuhan.

Doa yang dipanjatkan untuk prosesi kenduri siang antara lain: bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa karena telah diberi panen dan rejeki untuk hidup, bersyukur diberi tanah sawah, ladang, pekarangan, bersyukur atas tanah air Indonesia, bersyukur diberi pekerjaan, mendoakan para pemimpin, mendoakan semua warga masyarakat supaya ayom ayem tata titi tentrem, gemah ripah karta raharja, ikhlas berbagi dan peduli kepada sesama. Tidak lupa juga mendoakan para leluhur atau nenek moyang yang telah menghadap Tuhan agar diampuni segala dosanya sehingga segera hidup bahagia di akhirat.

Prosesi malam dengan sajian wayang kulit semalam suntuk di balai desa kalurahan. Pagelaran wayang kulit semalam suntuk merupakan puncak acara tradisi budaya rasulan di desa kami. Sebelum pagelaran wayang dimulai, ada acara serah terima tokoh wayang dari ketua panitia kepada ki dalang. Selanjutnya pagelaran wayang dimulai. Pertunjukan tersebut bukan sekedar tontonan atau hiburan saja, tetapi ada pesan moral yang bisa disampaikan yaitu sebagai ‘laku prihatin’ atau dalam istilah jawa “lek-lek’an atau cegah guling”, seraya memanjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa agar dijauhkan dari segala malapetaka dan marabahaya.

Tradisi rasulan yang dilaksanakan di dusun kami, terkandung nilai-nilai budi pekerti yang bisa dipraktikkan oleh setiap warga dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai-nilai tersebut antara lain tanggung jawab, ucapan syukur, saling berbagi, rasa ikhlas, gotong royong, toleransi, dan kepedulian terhadap sesama manusia. Meskipun terjadi pro dan kontra di masyarakat, tetapi warisan budaya ini tetap menjadi kebanggaan warga dusun kami pada khususnya dan masyarakat Gunungkidul pada umumnya. Semua dapat dimaklumi atas dasar toleransi.

Pembelajaran yang dapat kita ambil dari kenduri pagi maupun siang bahwa apa yang kita peroleh dan kita santap adalah merupakan anugerah dari Tuhan Yang Maha Kuasa dan tanpa rahmatNya kita tidak bisa berbuat apa-apa. Oleh karena itu kita wajib bersyukur dan mengucapkan terimakasih atas anugerah yang kita terima melalui kurban sedekah makanan berupa ambeng dan weton untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang yang datang. Penguatan nilai yang terkait dengan nilai dalam tradisi rasulan juga diajarkan di keluarga kami. Ketika rasulan tiba keluarga kami menyediakan berbagai makanan untuk dihidangkan kepada tamu yang datang, baik itu sanak kerabat dari jauh, maupun teman-teman terdekat. Biasanya yang datang adalah teman sekolah dan teman kantor dari anggota keluarga. Melalui tradisi rasulan kita mengajarkan kepada anak-anak untuk berbagi dengan mengundang teman-teman untuk makan bersama di rumah. Dengan adanya kebiasaan berbagi ketika acara rasulan, terdapat penguatan nilai mengenai keikhlasan dan rasa peduli pada sesama.

 

  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PELATIHAN PENULISAN BIOGRAFI PEGIAT LITERASI AKTIF (PELITA) GUNUNGKIDUL

PUTIBA (PUISI TIGA BAIT) Karya: Florentina Winarti