RASULAN, WARISAN BUDAYA TAK TERGANTIKAN
Setidaknya sejak aku lahir, 54 tahun yang
lalu, tradisi rasulan sudah ada di daerahku. Bahkan sudah menjadi tradisi turun
temurun warisan nenek moyang. Sebagai warga, sudah menjadi kewajiban untuk
aktif dan peduli dengan apa yang ada di lingkungan tempat tinggal, terlebih
yang berkaitan dengan adat istiadat atau tradisi. Rasulan merupakan ritual dan
tradisi tahunan yang sangat dinantikan oleh seluruh warga masyarakat di
daerahku, tepatnya di Padukuhan Karangasem, RT 05, RW 08, Kalurahan Pulutan,
Kapanewon Wonosari, Kabupaten Gunungkidul.
Ketika tradisi rasulan tiba, kami seluruh
warga dengan suka rela bersama-sama menyongsong tradisi budaya ini dengan penuh
kerelaan hati tanpa adanya perintah atau tekanan dari pemerintah kalurahan. Secara
naluri budaya rasulan ini menjadi agenda yang hidup subur di hati dan pikiran
kami. Tradisi budaya rasulan sudah menjadi agenda tahunan yang melekat dan
seolah sudah menjadi suatu kewajiban bagi kami sebagai anggota masyarakat. Sejak
dahulu secara turun temurun dari nenek moyang sampai sekarang hari rasulan selalu
mengambil hari pasaran Senin Pahing. Untuk tahun ini pelaksanaan jatuh tanggal
9 Juni 2025.
Ada 3 prosesi dalam acara rasulan di
dusunku, yaitu prosesi pagi, siang, dan malam. Prosesi kenduri pagi
melambangkan ucapan syukur sehabis panen untuk para petani yang dipersembahkan
kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, Sang Pencipta yang telah memberikan rejeki
melimpah kepada warga dusun. Inti dari acara genduren pagi sebagai ajang
berkumpulnya warga masyarakat setempat untuk bersama-sama mengucap syukur dan
memanjatkan doa pada Tuhan.
Doa yang dipanjatkan untuk
prosesi kenduri siang antara lain: bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa
karena telah diberi panen dan rejeki untuk hidup, bersyukur diberi tanah sawah,
ladang, pekarangan, bersyukur atas tanah air Indonesia, bersyukur diberi
pekerjaan, mendoakan para pemimpin, mendoakan semua warga masyarakat supaya ayom ayem tata titi tentrem, gemah ripah karta raharja, ikhlas
berbagi dan peduli kepada sesama. Tidak lupa juga mendoakan para leluhur atau
nenek moyang yang telah menghadap Tuhan agar diampuni segala dosanya sehingga
segera hidup bahagia di akhirat.
Prosesi malam dengan sajian wayang kulit
semalam suntuk di balai desa kalurahan. Pagelaran wayang kulit semalam suntuk
merupakan puncak acara tradisi budaya rasulan di desa kami. Sebelum pagelaran
wayang dimulai, ada acara serah terima tokoh wayang dari ketua panitia kepada
ki dalang. Selanjutnya pagelaran wayang dimulai. Pertunjukan tersebut bukan
sekedar tontonan atau hiburan saja, tetapi ada pesan moral yang bisa
disampaikan yaitu sebagai ‘laku prihatin’
atau dalam istilah jawa “lek-lek’an atau
cegah guling”, seraya memanjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa agar dijauhkan
dari segala malapetaka dan marabahaya.
Tradisi rasulan yang
dilaksanakan di dusun kami, terkandung nilai-nilai budi pekerti yang bisa
dipraktikkan oleh setiap warga dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai-nilai
tersebut antara lain tanggung jawab, ucapan syukur, saling berbagi, rasa
ikhlas, gotong royong, toleransi, dan kepedulian terhadap sesama manusia.
Meskipun terjadi pro dan kontra di masyarakat, tetapi warisan budaya ini tetap
menjadi kebanggaan warga dusun kami pada khususnya dan masyarakat Gunungkidul
pada umumnya. Semua dapat dimaklumi atas dasar toleransi.
Pembelajaran yang
dapat kita ambil dari kenduri pagi maupun siang bahwa apa yang kita peroleh dan
kita santap adalah merupakan anugerah dari Tuhan Yang Maha Kuasa dan tanpa
rahmatNya kita tidak bisa berbuat apa-apa. Oleh karena itu kita wajib bersyukur
dan mengucapkan terimakasih atas anugerah yang kita terima melalui kurban
sedekah makanan berupa ambeng dan weton untuk dibagi-bagikan kepada
orang-orang yang datang. Penguatan nilai yang terkait dengan nilai dalam
tradisi rasulan juga diajarkan di keluarga kami. Ketika rasulan tiba keluarga
kami menyediakan berbagai makanan untuk dihidangkan kepada tamu yang datang,
baik itu sanak kerabat dari jauh, maupun teman-teman terdekat. Biasanya yang
datang adalah teman sekolah dan teman kantor dari anggota keluarga. Melalui
tradisi rasulan kita mengajarkan kepada anak-anak untuk berbagi dengan
mengundang teman-teman untuk makan bersama di rumah. Dengan adanya kebiasaan
berbagi ketika acara rasulan, terdapat penguatan nilai mengenai keikhlasan dan rasa
peduli pada sesama.

Komentar
Posting Komentar